*Oleh: KH Abdul Wasik Hannan, Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo
Kemerdekaan Hakiki
Refleksi HUT ke-81 Republik Indonesia.
Delapan puluh satu tahun telah berlalu sejak Sang Saka Merah Putih berkibar di langit Nusantara.
81 tahun Indonesia merdeka.
Kemerdekaan yang dahulu dibayar dengan air mata, keringat, darah, bahkan nyawa para pahlawan. Mereka tidak mewariskan kepada kita sekadar sebidang tanah bernama Indonesia, tetapi sebuah amanah besar: menjaga kemerdekaan dengan pengabdian dan mengisinya dengan kebaikan.
Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan.
Kemerdekaan adalah ketika anak bangsa mampu berdiri dengan kehormatan, berjalan dengan persatuan, dan hidup dengan keadilan.
Namun ada kemerdekaan yang lebih dalam daripada sekadar merdeka secara lahiriah:
kemerdekaan hati.
Sebab bisa jadi sebuah bangsa telah bebas dari penjajahan, tetapi manusia di dalamnya masih terjajah oleh keserakahan.
Terjajah oleh hawa nafsu.
Terjajah oleh ambisi kekuasaan.
Terjajah oleh cinta dunia dan pujian manusia.
Maka, di usia Indonesia yang ke-81 ini, marilah kita tidak hanya bertanya: Sudah sejauh mana Indonesia membangun? Tetapi juga: Sudah sejauh mana kita membangun Indonesia? Karena negeri ini tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga orang-orang jujur.
Tidak hanya membutuhkan pemimpin yang kuat, tetapi pemimpin yang amanah.
Tidak hanya membutuhkan pembangunan gedung-gedung tinggi, tetapi juga pembangunan akhlak dan peradaban.
Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika kita mampu berkata: Aku tidak akan menjual kejujuran demi keuntungan, tidak akan menjual persaudaraan demi kepentingan,
tidak akan menjual prinsip demi jabatan,
dan tidak akan menjual agama demi dunia.
Sebab manusia yang paling merdeka bukanlah yang mampu melakukan apa saja yang ia inginkan, tetapi yang mampu menahan dirinya dari segala sesuatu yang merendahkan martabatnya.
Dan bagi seorang mukmin, puncak kemerdekaan adalah ketika hati hanya tunduk kepada Allah.
فَالْحُرِّيَّةُ الْحَقِيقِيَّةُ أَنْ تَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ، لَا عَبْدًا لِهَوَاكَ وَلَا لِغَيْرِ اللهِ.
Kemerdekaan hakiki adalah menjadi hamba Allah, bukan menjadi budak hawa nafsu dan bukan pula menjadi budak selain-Nya.
Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia. Semoga Merah Putih tidak hanya berkibar di angkasa, tetapi juga berkibar di dalam dada setiap anak bangsa.
Semoga Indonesia semakin maju tanpa kehilangan jati diri, semakin kuat tanpa kehilangan persaudaraan, semakin sejahtera tanpa kehilangan keadilan, dan semakin besar tanpa kehilangan akhlak.
Karena kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan adalah amanah. Dan amanah itu tidak cukup dikenang dengan upacara—
ia harus dijaga dengan pengabdian.
Indonesia merdeka.
Indonesia bersatu.
Indonesia berdaulat.
Indonesia bermartabat.
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
(*/Admin)


