*Oleh: KH Abdul Wasik Hannan, Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo
Menyambut Tahun Baru Hijriah dengan syukur, muhasabah, dan harapan. Tahun Baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam penanggalan Islam. Ia adalah momentum untuk mengingat sebuah peristiwa agung yang mengubah arah sejarah umat, yaitu hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Makkah menuju Madinah.
Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi perpindahan dari kegelapan menuju cahaya, dari kelemahan menuju kekuatan, dan dari keterbelakangan menuju peradaban.
Karena itu, cara terbaik kaum muslimin menyambut datangnya tahun baru Hijriah bukanlah dengan hura-hura dan kemeriahan yang melalaikan, melainkan dengan memperbanyak syukur kepada Allah, melakukan muhasabah atas perjalanan hidup yang telah dilalui, serta memperbarui tekad untuk menjadi hamba yang lebih taat pada tahun yang akan datang.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ
“Orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, sungguh Kami akan memberikan kepada mereka tempat yang baik di dunia, dan pahala akhirat itu lebih besar.”
(QS. An-Nahl: 41)
Semangat Hijrah yang terkandung dalam ayat ini hendaknya hidup dalam diri setiap muslim.
Jika dahulu Rasulullah ﷺ berhijrah meninggalkan negeri demi mempertahankan agama, maka hari ini kita dituntut berhijrah dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari kelalaian menuju kesungguhan beribadah, dan dari akhlak yang buruk menuju akhlak yang mulia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”
(HR. al-Bukhari)
Maka setiap datangnya tahun baru Hijriah, seorang muslim bertanya kepada dirinya: Sudahkah aku berhijrah menjadi lebih baik? Sudahkah ilmuku bertambah? Sudahkah ibadahku meningkat? Sudahkah manfaatku dirasakan oleh sesama?
Para ulama salaf juga sangat menekankan pentingnya muhasabah. Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khattab berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Oleh karena itu, menyambut Tahun Baru Hijriah dapat diisi dengan memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, menyambung silaturahim, memperbanyak sedekah, serta memanjatkan doa agar Allah menjadikan tahun yang baru lebih baik daripada tahun sebelumnya.
Sebagaimana ungkapan para ulama:
مَنْ اسْتَوَى يَوْمَاهُ فَهُوَ مَغْبُونٌ
“Barang siapa dua harinya sama, maka ia termasuk orang yang merugi.”
Semoga dengan datangnya tahun baru Hijriah 1448 H, Allah menganugerahkan kepada kita hati yang lebih bersih, ilmu yang lebih bermanfaat, amal yang lebih ikhlas, dan umur yang dipenuhi keberkahan.
Semoga tahun yang berlalu menjadi saksi atas kebaikan-kebaikan kita, dan tahun yang akan datang menjadi ladang amal yang mengantarkan kita kepada ridha-Nya. Aamiin. (*)


