*Oleh: KH M Syakur Dewa, Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Probolinggo
Tujuan kurban adalah untuk diambil manfaatnya, maka dilarang keras:
- Menjual bagian kurban, termasuk kulitnya.
- Dijadikan upah tukang jagal.
Bagaimana Pemanfaatan Kulitnya:
- Disedekahkan semuanya.
- Dipakai sendiri (dibuat sepatu, timba, dll), tapi tidak boleh disewakan.
Catatan: Pemanfaatan di atas berlaku untuk kurban sunnah. Jika kurban wajib (nadzar), maka seluruhnya wajib disedekahkan.
Solusi Jual Kulit Kurban:
- Sistem Tamlik: Panitia memberikan kulit kepada fakir miskin, lalu penerima tersebut bebas menjualnya untuk kepentingan mereka.
- Pendapat Imam Abu Hanifah: Membolehkan jual kulit asalkan uangnya disedekahkan kepada fakir miskin. Untuk kurban sunnah, boleh ditukar dengan barang yang bermanfaat untuk pertalatan rumah tangga.
- Pendapat Lain (Shohibut Taqrib): Diperbolehkan menjual kulit asalkan seluruh uang hasil penjualannya disalurkan kepada para penerima kurban. Tapi yang terakhir ini pendapat gharib.
Terjemahan Kitab Kifayatul Akhyar (Hal. 242)
وَاعْلَمْ أَنَّ مَوْضِعَ الْأُضْحِيَّةِ الِانْتِفَاعُ، فَلَا يَجُوزُ بَيْعُهَا بَلْ وَلَا بَيْعُ جِلْدِهَا، وَلَا يَجُوزُ جَعْلُهُ أُجْرَةً لِلْجَزَّارِ وَإِنْ كَانَتْ تَطَوُّعاً.
بَلْ يَتَصَدَّقُ بِهِ الْمُضَحِّي أَوْ يَتَّخِذُ مِنْهُ مَا يَنْتَفِعُ بِهِ مِنْ خُفٍّ أَوْ نَعْلٍ أَوْ دَلْوٍ أَوْ غَيْرِهِ، وَلَا يُؤَجِّرُهُ. وَالْقَرْنُ كَالْجِلْدِ.
وَعِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللهُ أَنَّهُ يَجُوزُ بَيْعُهُ وَيَتَصَدَّقُ بِثَمَنِهِ، وَأَنْ يَشْتَرِيَ بِعَيْنِهِ مَا يَنْتَفِعُ بِهِ فِي الْبَيْتِ. لَنَا الْقِيَاسُ عَلَى اللَّحْمِ.
وَعَنْ صَاحِبِ التَّقْرِيبِ حِكَايَةُ قَوْلٍ غَرِيبٍ أَنَّهُ يَجُوزُ بَيْعُ الْجِلْدِ وَيُصْرَفُ ثَمَنُهُ مَصْرِفَ الْأُضْحِيَّةِ. (*)


