* Oleh: KH Abdul Wasik Hannan, Ketua Umum MUI Kabupatengvvv g Probolinggo
Di tanah yang tenang di Desa Kalikajar Kulon, Kecamatan Paiton, Kabup Probolinggo, tumbuh sebuyah cahaya yang mula-mula hanya berpendar dari sebuah musala sederhana. Cahaya itu kemudian menjelma menjadi lentera besar yang menerangi banyak jiwa—itulah warisan dari seorang ulama karismatik, Kiai Haji Mohamad Hasyim Mino, yang akrab disapa Kiai Mino.
Beliau bukan sekadar pendiri pesantren, melainkan penanam nilai, penjaga ruh keilmuan, dan pembimbing hati. Dalam kesederhanaannya, tersimpan kedalaman hikmah; dalam diamnya, terpancar wibawa yang menenteramkan.
Masyarakat mengenalnya sebagai sosok yang memiliki karomah—bukan untuk diagungkan, tetapi justru semakin meneguhkan ketawadhuan dan kedekatannya kepada Allah. Dari tangan beliau, Pondok Pesantren Nurul Qodim tumbuh perlahan namun pasti.
Dari musala kecil yang bersahaja, ia berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang kokoh—tempat para santri ditempa bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan adab, keikhlasan, dan cinta kepada agama.
Keagungan beliau tidak hanya tampak dalam perjuangan membangun pesantren, tetapi juga dalam cara beliau melayani manusia. Kiai Mino tidak pernah memilih-milih tamu, tidak pula membatasi tempat untuk berkhidmah.
Bahkan di tengah hamparan sawah, saat tubuhnya bersahaja bersama tanah dan peluh, beliau tetap menyambut siapa pun yang datang dengan wajah teduh dan hati yang lapang. Bagi beliau, setiap tamu adalah amanah, dan setiap perjumpaan adalah ladang ibadah.
Lisan beliau pun dikenal basah dengan doa. Banyak yang bersaksi tentang munajatnya yang istijabah—doa-doa yang melangit dengan keikhlasan, lalu turun kembali sebagai jawaban dalam bentuk keberkahan.
Namun, di balik itu semua, beliau tetap menyembunyikan kemuliaannya dalam kerendahan hati yang dalam, seolah tak pernah merasa memiliki keistimewaan apa pun.
Jejak perjuangan Kiai Mino adalah kisah tentang kesabaran yang tak riuh, tentang pengabdian yang tak menuntut sorotan.
Namun justru dari kesunyian itulah lahir gelombang kebaikan yang terus mengalir hingga kini, menyentuh generasi demi generasi.
Dan di setiap sudut pesantren itu, seakan masih terbisik doa-doa beliau—doa yang dahulu dipanjatkan dalam sunyi, namun kini menjelma menjadi keberkahan yang tak pernah berhenti.

Keberkahan itu akan selalu diharapkan oleh masyarakat Kabupaten Probolinggo pada khususnya, dan umat Islam pada umumnya. Untuk itu, momentum haul ke-39 Kiai Mino rutin digelar.
Untuk tahun ini, haul diselenggarakan pada Rabu, 6 Mei 2026 di Pesantren Nurul Qodim, Desa Kalikajar Kulon, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. (*)


