Haul Ke-73 Kiai Hasan Genggong: Mengenang Ulama, Meneladani Akhlaknya

Share

Oleh: KH Abdul Wasik Hannan, Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo

Kiai Hasan Sepuh, demikian sapaan akrab beliau, adalah sosok alim, mursyid, dan pejuang umat yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu, dakwah, dan perjuangan.

Mengenang haul beliau yang ke-73, Selasa (31/3/2026) Pimpinan Daerah MUI Kabupaten Probolinggo turut mendoakan, semoga Allah merahmati beliau, dan kami dapat meneladani akhlak dan sepak terjang beliau serta diberi kesempatan untuk meneruskan perjuangan beliau. Amin.

KH Hasan Genggong (1843–1955) adalah seorang ulama besar, guru spiritual (mursyid), dan tokoh penting dalam dunia pesantren di Indonesia. Beliau lahir di Desa Sentong, Krejengan, Probolinggo dan dikenal sebagai sosok yang alim dalam berbagai bidang ilmu seperti tauhid, fiqih, hadits, tafsir, dan tasawuf.

Beliau merupakan tokoh sentral di Pesantren Zainul Hasan Genggong, yang hingga kini menjadi salah satu pesantren berpengaruh di Jawa Timur.

Sosok Ulama yang Menginspirasi

Sejak muda, beliau dikenal sangat haus ilmu dan memiliki semangat belajar yang tinggi.

Perjalanan hidupnya diwarnai dengan kedalaman spiritual dan kedekatan kepada Allah.

Beliau bukan hanya seorang alim, tetapi juga seorang pembimbing rohani yang melahirkan banyak murid dan penerus dalam dunia tarekat.

Peran dalam Dakwah & Tarekat

KH Hasan Genggong adalah pendiri Tarekat Naqsyabandiyah Ali Ba ‘Alawiyah, sebuah jalan spiritual yang menggabungkan kekuatan zikir, akhlak, dan keteladanan.

Melalui tarekat ini, beliau mengajarkan bahwa, perjalanan menuju Allah harus ditempuh dengan ilmu, keikhlasan, dan bimbingan guru yang benar.

Kontribusi untuk Umat & Bangsa

Beliau juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang memberikan dukungan spiritual dalam lahirnya Nahdlatul Ulama. Bahkan melalui dawuh motivatifnya, beliau mengajak masyarakat untuk terus, tanpa kendor, membantu NU;

من أعان نهضة العلماء، فقد سعد فى الدنيا والآخرة
“Barang siapa yang berjuang untuk Nahdlatul Ulama, maka ia akan berbahagia di dunia dan di akhirat.”

Di masa penjajahan, pesantrennya menjadi pusat perjuangan dan pembinaan umat. Beliau menanamkan nilai keberanian, keikhlasan, dan cinta tanah air. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *