Lebaran dan Tradisi Bermaafan

Share

Oleh: KH Abdul Wasik Hannan, Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo

Bermaafan di hari lebaran adalah momen puncak dari perjalanan ruhani setelah Ramadhan—bukan sekadar perayaan, tetapi kembalinya hati kepada fitrah.

Dalam suasana Idul Fitri, bermaafan menjadi tradisi yang sarat makna:
Ia menghapus luka lama yang sering tak terlihat.

Ia menyatukan kembali hubungan yang sempat renggang. Ia membersihkan hati, sebagaimana Ramadhan membersihkan jiwa.

Secara hikmah, bermaafan bukan hanya ucapan “mohon maaf lahir dan batin”, tetapi, keberanian mengakui kekurangan,
kelapangan menerima orang lain,
dan keikhlasan melepaskan beban masa lalu.

Hari Raya mengajarkan kita, bahwa kemenangan bukan pada baju baru,
tetapi pada hati yang kembali bersih.
Di hari fitri, tangan saling berjabat, namun yang lebih indah adalah hati yang benar-benar berdamai.

Maaf adalah jembatan, yang menyambung kembali kasih sayang, meski pernah terputus oleh kesalahan.

Lebaran sejati adalah saat tidak ada lagi dendam yang tersisa, dan semua kembali menjadi saudara.

فليس العيدُ يومًا يُمرّ،
بل حالٌ يُعاش…
أن نكونَ نقيَّ القلب، واسعَ الصدر،
كأننا وُلدنا من جديد.

Hari Raya bukanlah sekadar hari yang berlalu, melainkan keadaan yang dijalani
yakni ketika kita memiliki hati yang bersih, dada yang lapang, seakan-akan kita terlahir kembali. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *