Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Share

* Oleh KH Abdul Wasik Hannan, Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo

Tatkala bulan Dzulhijjah datang menyapa, hadir bersamanya musim kebaikan yang agung.

Sepuluh hari pertamanya adalah hari-hari yang dimuliakan Allah, hari-hari yang di dalamnya pintu rahmat dibuka lebar, pahala amal dilipatgandakan, dan hati-hati orang beriman dipanggil untuk kembali mendekat kepada Rabb-nya.

Allah Ta‘ala sendiri bersumpah dengannya dalam Al-Qur’an:

وَالفَجْرِ وَلَيَلٍ عَشْرٍ
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2)

Banyak ulama menafsirkan “malam yang sepuluh” sebagai sepuluh hari pertama Dzulhijjah; sebuah isyarat bahwa hari-hari ini memiliki kedudukan yang amat tinggi di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada amal saleh pada hari-hari ini.”

فقالوا: يَارَسُوْلَ اللَّه، وَلَا الجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللَّه؟
Para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah?”

Beliau menjawab,

وَلَا الجِهَادُ فِى سَبِيْلِ اللَّه
“Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.” (HR. Al-Bukhari)

Betapa agung hari-hari ini. Amal yang mungkin tampak kecil di mata manusia—dzikir yang lirih, sedekah yang sederhana, tilawah beberapa ayat, atau air mata taubat di sepertiga malam—dapat menjadi sangat besar di sisi Allah apabila dilakukan pada hari-hari mulia ini.

Di dalamnya berkumpul berbagai ibadah agung: shalat, puasa, sedekah, dzikir, haji, kurban, dan taubat. Tidak ada waktu lain dalam setahun yang menghimpun begitu banyak bentuk penghambaan sekaligus seperti sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Maka, orang-orang saleh dahulu menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Mereka memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Lidah mereka basah dengan menyebut nama Allah, sementara hati mereka dipenuhi harap dan takut kepada-Nya.

Puasa pada hari-hari ini, terutama pada hari Arafah, memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah ﷺ menyebut bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Hari itu adalah hari pengampunan, hari ketika banyak hamba dibebaskan dari api neraka.

Kemudian datang hari raya kurban, hari kegembiraan kaum muslimin, hari syukur dan pengorbanan. Di sana tersimpan pelajaran tentang keikhlasan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan ketundukan total kepada perintah Allah.

Karena itu, sepuluh hari pertama Dzulhijjah bukan sekadar pergantian tanggal dalam kalender hijriah. Ia adalah undangan langit bagi setiap jiwa yang ingin memperbaiki diri, menghapus dosa-dosa, dan menanam bekal untuk kehidupan akhirat.

Berbahagialah orang yang memanfaatkannya dengan amal saleh. Sebab bisa jadi, inilah sepuluh hari yang mengangkat derajatnya di sisi Allah, menghapus kelalaiannya, dan menjadi sebab keselamatannya pada hari ketika tidak berguna harta maupun kedudukan, kecuali hati yang datang kepada Allah dengan penuh keikhlasan.

Semoga Allah memberi kita kemampuan lahir batin mengisi hari-hari yang berharga itu dengan amal-amal saleh. Amin. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *