Ketika Langit Membuka Pintu-Pintu Rahmat

Share

*Oleh: KH Abdul Wasik Hannan, Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo

Rasulullah ﷺ bersabda:

“إِنَّ أَعْظَمَ الأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ”

“Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah Tabaraka wa Ta‘ala adalah hari Nahr (Iduladha), kemudian hari al-Qarr.”

Ada hari-hari yang berlalu begitu saja dalam hidup manusia. Namun ada pula hari-hari yang namanya disebut di langit, dimuliakan oleh Allah, disaksikan para malaikat, dan dilimpahi rahmat yang tak terhingga. Di antara hari itu adalah Hari Nahr—hari ketika jutaan hati bertakbir, jutaan tangan menengadah, dan jutaan jiwa kembali belajar arti cinta dan pengorbanan.

Pada hari itu, Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus lebih tinggi daripada apa pun yang kita genggam. Nabi Ismail mengajarkan ketundukan yang sempurna. Dan umat Muhammad ﷺ diajarkan bahwa mendekat kepada Allah tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi dengan keikhlasan yang rela berkorban.

Lalu datanglah Hari al-Qarr—hari teduh setelah derasnya ibadah. Hari ketika para tamu Allah berdiam di Mina, menikmati ketenangan setelah tangis doa dan letih perjuangan. Seakan Allah ingin menunjukkan: bahwa setelah penghambaan yang tulus, selalu ada ketenangan yang Dia hadiahkan ke dalam hati.

Maka Iduladha bukan sekadar tentang hewan kurban yang disembelih. Ia adalah tentang ego yang dipatahkan, kesombongan yang ditundukkan, dan hati yang kembali belajar ikhlas. Sebab bisa jadi, yang paling ingin Allah lihat bukan darah dan daging yang sampai, melainkan hati yang rela taat meski berat.

Di hari-hari mulia ini, mungkin ada yang sedang jauh dari keluarga, ada yang sedang diuji ekonomi, ada yang menyimpan luka dan kehilangan. Namun gema takbir mengajarkan satu hal: bahwa Allah tetap dekat. Bahwa rahmat-Nya lebih luas daripada kesedihan kita. Dan bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena-Nya tidak akan pernah sia-sia.

Mari hidupkan hari-hari agung ini dengan dzikir yang tulus, doa yang lirih, tangan yang gemar berbagi, serta hati yang lembut kepada sesama. Siapa tahu, di antara takbir yang kita lantunkan dan air mata yang jatuh diam-diam, Allah sedang menuliskan ampunan dan cinta-Nya untuk kita.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقَبُولِ، وَمِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ إِذَا ذَكَرُوكَ ذَكَرْتَهُمْ، وَإِذَا تَقَرَّبُوا إِلَيْكَ قَرَّبْتَهُمْ.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *