*Oleh: KH M Syakur Dewa, Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Probolinggo
Meraih predikat haji mabrur adalah impian tertinggi setiap jemaah, karena Rasulullah SAW menjanjikan balasan surga baginya.
Namun, apa sebenarnya hakikat mabrur dan bagaimana ciri-cirinya? Tulisan berikut akan mengulas makna dan tanda-tanda kemabruran haji berdasarkan petunjuk hadis serta penjelasan para ulama:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ»
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga” (HR Bukhari dan Muslim)
Apa maksud haji mabrur? Imam Nawawi mengutip dari beberapa ulama:
- Tidak Bercampur Dengan Dosa
فَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ هُوَ الَّذِي لَا يُخَالِطُهُ شَيْءٌ مِنَ الْمَأْثَمِ
“Menurut Qadli Iyadl haji mabrur adalah haji yang tidak tercampur dengan dosa”
Pendapat ini merupakan uraian dari hadis:
” مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ “
“Barangsiapa melakukan haji, lalu ia tidak melakukan perkataan kotor dan tidak berbuat maksiat, maka ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” (HR Muslim).
Selaras pula dengan firman Allah QS Al-Baqarah 197.
- Perilaku Yang Semakin Baik
وَقِيلَ هُوَ الْمَقْبُولُ وَمِنْ عَلَامَةِ الْقَبُولِ أَنْ يَرْجَعَ خَيْرًا مِمَّا كَانَ وَلَا يُعَاوِدَ الْمَعَاصِيَ
Mabrur artinya haji yang diterima. Diantara tanda-tandanya ia kembali ke negaranya lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengulangi perbuatan dosa.
وَفِي الْحَدِيثِ بِرُّ الْحَجِّ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ
Disebutkan dalam hadis: “Haji mabrur adalah memberikan makan dan tutur kata yang baik” (HR Al Hakim). (*)


