Krejengan – Pagi itu, Rabu (28/1/2025) langit di wilayah Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo terlihat mendung iringi pemakaman almarhum KH Munir Kholili. Dalam momentum itu, pihak keluarga mengucapkan permohonan maaf kepada para petakziah.
Ucapan permohonan maaf dengan bahasa Madura itu disampaikan oleh salah satu putra almarhum, KH Moh Amin, sebelum pelaksanaan salat jenazah dilangsungkan. “Saya menyampaikan permohonan maaf kesalahan almarhum,” katanya dengan menahan tangis.
Kiai Amin, begitu beliau disapa, mengetahui bagaimana kedekatan almarhum KH Munir Kholili dengan masyarakat. “Bahkan almarhum dikenal dengan kiai kampungan, saking dekatnya dengan umat di kampung-kampung,” kenangnya.

Apa yang disampaikan Kiai Amin dibenarkan oleh Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo, KH Abdul Wasik Hannan. Menurutnya, almarhum dekat dengan masyarakat karena selalu menyapa warga. “Almarhum Kiai Munir ini geteh (mudah menyapa, Madura, red) ke masyarakat. Banyaknya petakziah ini menandakan bahwa almarhum cinta kepada masyarakat,” ujar Kiai Wasik.
Kiai Wasik juga menceritakan sepak terjang almarhum di organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan MUI Kabupaten Probolinggo. Diceritakan, bahwa Kiai Munir pernah menjadi rais syuriah PCNU Kota Kraksaan sejak tahun 2005 dan berlangsung selama empat periode. “Saya sendiri waktu itu jadi khatib syuriah,” kenangnya. Sementara di MUI Kabupaten Probolinggo, lanjut Kiai Wasik, Kiai Munir menjabat ketua umum sejak 2010 sampai 2025.

Kiai Wasik bahkan menyebut dirinya telah dikader langsung oleh almarhum. “Termasuk ketika almarhum menghubungi Kiai Mutawakkil dan Kiai Zuhri agar saya jadi rois syuriah PCNU Kota Kraksaan,” katanya.
Bagi Kiai Wasik, KH Munir Kholili telah menginspirasi dirinya. Baik di organisasi NU maupun MUI.
Diketahui, jenazah almarhum KH Munir Kholili dimakamkan di maqbaroh masyayikh Ponpes Rofiatul Islam, Desa Sentong, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Tempat pemakaman itu berada di barat kediaman almarhum. (Admin)


