Setelah Habib, Kini Kiai

Share

* Opini : KH Abdul Wasik Hannan, Wakil Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo

Selalu dimulai dari kata “hanya.” Hanya kritik, katanya. Hanya peringatan. Hanya membuka mata umat. Tapi seperti banyak hal di dunia ini, yang “hanya” itu sering jadi awal dari sesuatu yang besar — dan busuk.

Kemarin, yang diserang adalah habaib. Tuduhannya macam-macam: haus kekuasaan, pencitraan, menakut-nakuti umat dengan karomah. Masyarakat tertawa, merasa sedang mencerdaskan diri. Tapi di balik tawa itu, ada yang sedang dicabut pelan-pelan: rasa hormat.

Sekarang giliran kiai pesantren. Polanya tak berubah. Cuma ganti wajah. Kalau santri menghormat, disebut jongos. Kalau mengabdi, dibilang diperbudak. Kalau bekerja sukarela, dicap tidak manusiawi. Padahal kata “khidmah” sudah berabad-abad menjadi bahasa cinta — tapi entah sejak kapan, cinta harus mendapat izin dari aktivis HAM.

Pesantren dituding beku, kolot, atau tidak higienis. Satu gedung roboh, ribuan pesantren lain ikut dituduh rapuh. Dunia digital tak butuh pembuktian; cukup satu video, dan satu juta jempol yang merasa jadi hakim. Sementara di halaman-halaman sunyi pesantren, masih ada santri yang menghafal Qur’an dengan penerangan lampu seadanya — tapi itu tidak viral. Karena kebenaran, rupanya, tidak cukup menarik dibandingkan kesalahan yang dibesarkan.

Serangan ini bukan perang agama, mungkin. Tapi perang simbol. Dulu habaib, sekarang kiai. Besok, mungkin masjid. Setelah itu, Tuhan sendiri hanya tinggal nama di akta kelahiran. Semua berjalan halus. Tak ada darah. Hanya kehilangan demi kehilangan — mulai dari rasa malu, lalu rasa hormat, lalu arah.

Dan seperti biasa, kita menontonnya dengan khusyuk. Menyebutnya “kritis,” padahal diam-diam kita sedang menertawakan diri sendiri: umat yang dengan sukarela memusnahkan orang-orang yang dulu mengajarinya sujud. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *