Oleh: KH Abdul Wasik Hannan, Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo
Hari Raya bukan sekadar gema takbir yang menggema di langit, bukan pula hanya pakaian baru yang menghiasi raga.
Ia adalah kembalinya hati kepada fitrah, setelah sebulan ditempa oleh lapar, sabar, dan doa. Dan ketika hari-hari berlalu menuju Lebaran Ketupat, tradisi pun berbicara dengan bahasa yang halus: bahwa kemenangan tidak berhenti di hari pertama, tetapi harus dijaga, dirawat, dan diwariskan.
Lihatlah ketupat yang teranyam itu—
daun-daun yang disilangkan dengan sabar,
seperti dosa dan khilaf yang saling bertaut,
yang hanya bisa dirapikan dengan keikhlasan dan saling memaafkan. Di dalamnya tersembunyi putihnya nasi, seolah mengisyaratkan hati yang telah dibersihkan.
Kulitnya mungkin rumit dan berlapis, namun isinya sederhana dan jujur — seperti manusia yang belajar menanggalkan kepalsuan,
dan kembali kepada keikhlasan.
Lebaran Ketupat mengajarkan kita:
bahwa silaturahmi tidak boleh terputus oleh waktu, bahwa maaf tidak cukup diucapkan sekali, dan bahwa kebersihan hati harus terus dijaga, sebagaimana anyaman ketupat yang harus kuat agar tidak terurai.
Di meja-meja sederhana, ketupat dihidangkan bersama senyum dan cerita,
mengikat kembali hubungan yang sempat renggang, menghangatkan kembali kasih yang hampir redup.
العيدُ بدايةُ انتصار،
وعيدُ الكُتُبَاتِ حارسُ معناه، كي لا تكونَ الفطرة عابرةً بل مقيمةً في النفوس،تصيرُ خُلُقًا، وتصيرُ عادة، وتكونُ سبيلًا إلى رضوانِ الله.
Hari Raya adalah awal kemenangan, dan Lebaran Ketupat adalah penjaganya— agar fitrah tidak sekadar singgah, tetapi menetap dalam jiwa, menjadi akhlak, menjadi kebiasaan, dan menjadi jalan menuju ridha-Nya. (*)


