Oleh: KH Abdul Wasik Hannan, Ketua Umum MUI Kabupaten Probolinggo
Tidak semua yang melewati Ramadan, benar-benar pulang sebagai mukmin yang baru.
Ada yang selesai berpuasa, lalu selesai pula hubungannya dengan Ramadan. Bukan hanya harinya yang berlalu, tapi juga rasanya. Bahkan kadang, bekasnya ikut memudar. Seolah-olah Ramadan hanya waktu, bukan madrasah jiwa.
Pertanyaannya: apakah ada yang menyesal bertemu Ramadan?
Ada.
Bukan karena puasanya sia-sia. Bukan karena ibadahnya tak berarti. Tapi karena mereka merasa menjalani sesuatu yang tidak sepenuhnya lahir dari kesadaran.
Dulu berpuasa karena kewajiban, karena suasana, atau karena semua orang melakukannya. Maka ketika Ramadan pergi, yang ingin dilakukan adalah kembali seperti semula—tanpa beban, tanpa ikatan.
Seperti seseorang yang menahan diri karena aturan, lalu ketika aturan itu selesai, ia merasa bebas untuk kembali.
Di situlah muncul fenomena yang sunyi: mukmin yang “putus” dengan Ramadan.
Takbir hanya gema sesaat. Tilawah berhenti di hari terakhir. Doa tak lagi panjang di sepertiga malam.
Nama Ramadan tak lagi disebut dengan rindu. Bahkan, ada yang menutupnya seperti menutup lembaran yang tak ingin dibuka lagi.
Menariknya, sebagian dari mereka tetap berjalan baik dalam hidupnya. Ada yang sukses, ada yang mapan, ada yang terlihat tenang dengan dunianya. Mereka tumbuh—bahkan tampak kokoh dari luar.
Dan di titik itu, muncul bisikan halus: untuk apa menjaga ritme Ramadan, kalau hidup sudah kembali normal?
Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal rasa. Sebab bagi sebagian orang, Ramadan adalah rumah. Tapi bagi sebagian lain, ia hanya musim yang datang dan pergi.
Namun, ada satu hal yang sering luput disadari. Tidak semua yang kita tinggalkan, benar-benar selesai dalam diri kita.
Ramadan bukan hanya tentang lapar dan haus. Ia adalah tempat kita belajar menahan diri, belajar jujur pada Tuhan, belajar sunyi, belajar berharap, bahkan belajar menangis tanpa dilihat siapa pun.
Banyak yang terasa biasa saat itu, tapi diam-diam membentuk cara kita memandang hidup setelahnya.
Maka meskipun seseorang merasa telah jauh, sebenarnya ia tetap membawa jejak itu. Cara ia menahan marah. Cara ia merindukan ketenangan. Cara ia kembali saat lelah.
Semuanya, sedikit banyak, masih menyimpan sisa-sisa Ramadan. Hanya saja, tidak semua orang ingin mengakuinya. Mungkin karena merasa sudah cukup. Mungkin karena merasa sudah kembali seperti dulu. Atau mungkin karena belum siap menjaga apa yang pernah dibangun.
Tapi hidup punya cara yang lembut untuk mengingatkan. Bahwa yang pernah menyentuh hati, tidak pernah benar-benar pergi. Dan sering kali, yang paling jauh dari Ramadan, justru yang paling dalam pernah merasakannya.
Maka istikamah atau tidak, itu pilihan. Menjaga atau melepas, itu keputusan.
Tapi satu hal yang sulit dihapus:
bahwa pernah bertemu Ramadan dengan iman, bukan sekadar peristiwa—ia adalah jejak. Dan jejak, tidak pernah benar-benar hilang. (*)


